Rabu, 29 Desember 2010

GURU INISIATOR

GURU INISIATOR
Oleh:
Cholifatul Munawaroh
(Mahasiswa UIN MALIKI Malang )

Pendidikan pada era sekarang ini hendaknya berorientasi pada model pendidikan yang berwawasan global, yaitu, pendidikan yang dilandaskan pada pluralitas agama, politik, hukum, ekonomi, sosial, budaya, etnis, ras, bahasa. Hal ini dalam scope regional, nasional, melainkan hingga global ( internasional).
Terdapat istillah guru bakal, guru jadi dan guru sejati. Guru sejati merupakan guru yang dengan seperangkat ilmunya ketika diperoleh dari meja sekolah keguruan. Guru jadi adalah guru yang mampu mengaplikasikan ilmunya dengan segala konsekuensi yang diterimanya walaupun belum profesional. Dan guru sejati adalah guru yang mampu mengetahui, memahami, dan mengaplikasikan ilmu pada peserta didik dengan bekal ilmu keguruan yang profesional dan sanggup menuju pada profesionalisasi.
Dengan demikian guru dituntut tidak hanya mempunyai persyaratan secara formal yang berupa ijasah, melainkan juga kepekaan terhadap kondidi sosial, emosional, dan spiritual. Kepekaan sosial menuntut guru hendaknya mampu menjadi pioner perubahan sosial positif. Kepekaan emosional adalah guru mampu bangkit mengabdikan diri sepenuhnya pada anak bangsa. Sedangkan, kepekaan spiritual adalah guru mampu membangun kejiwaan peserta didik yang berorientasi pada penanaman moral, menyakini kebenaran ilmu pengetahuan yang disampaikan, dan menjadi contoh atau suritauladan.
Prasyarat diatas merupakan poin-poin yang harus dipersiapkan oleh sosok guru inisiator, yaitu guru yang mampu mengetahui dan memahami kondisi siswa, lingkungan permainan siswa, bakat siswa, kecendrungan siswa, kondisi orang tua siswa, mata pelajaran siswa, keberhasilan dan kegagalan siswa.
A.
Makna guru inisiator
Pada prinsipnya interaksi kelas "proses pembelajara" tidak bisa terelakkan oleh tiga hal, yaitu; guru, siswa, dan materi ajar.
1.
Sebagai inisiator guru ,hendaknya mampu memilih dan mengembangkan bahan pengajaran yang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Kemudian guru juga harus mengkaji strategi atau metode pengajaran dan berlatih mengembangkannya sehingga sesuai dan tepat bagi peserta didiknya.
Guru menyampaikan ilmu, siswa mendengarkan, dan materi sebagai hal yang diberikan oleh guru pada anak didik. Guru dalam menyampaikan ilmu tidak semudah yang dibayangkan oleh kebanyakan orang. Artinya, guru tidak hanya sekedar menyampaikan ilmu yang berupa verbalistik-fisik, melainkan unsur psikologis hendaknya sama atau mendekati kesamaan antara guru dan siswa, dan hal ini tidak mudah untuk disatukannya.
Guru inisiator hendaknya memperhatikan hal-hal berikut:
a.
Keadaan siswa dari tingkat kecerdasan, kematangan berfikir dan perbedaan individu siswa.
b.
c.
d.
e.
f.
2.
Guru inisiator dalam menghadapi anak didik dianjurkan untuk mampuu melaksanakan program pengajaran seperti; mengkaji prinsip-prinsip pengelolahan siswa, menciptakan sussana belajar mengajar yang baik, dan mampu menangani masalah pengajaran dan pengelolahannya untuk kenyamanan peserta didiknya.
3.
Guru adalah sumber belajar yang paling baik, jika dibandingkan dengan sumber belajar lainnya, seperti’ buku, majalah, televisi, internet, dll. Argumen riilnya adalah guru mempunyai ikatan emosional secara langsung dengan siswanya dalam bentuk kontak batiniah. Sedangkan sumber belajar lainnya hanya sekedar motivasi lahiriyah semata. Namun demikian kita tidak boleh menafikan pentingnya sumber belajar selain guru tersebut.
Materi merupakan bahan ajar yang hendaknya dipilah sesuai dengan bakat dan minat anak didik. Karena bagaiman pun memaksakan materi yang tidak disukai oleh siswa akan menjadikan proses pembelajaran tidak nyaman, bahkan yang terjadi adalah siswa tidak mendengar dan jalan yang terburuk adalah siswa ngantuk atau bolos. Fenomena seperti ini tidak sedikit yang kita saksikan dalam jalur pendidikan formal setingkat sekolah dasar dan menengah. Untuk mengatasinya, tentu melalui keprofesionalan guru agar peserta didiknya tetap semangat mengikuti pelajaran dan mencintai pelajaran tersebut.
Siswa merupaka sosok individu yang beragam tingkat intelektualitas, minat dan bakatnya. Mereka tidak mau dijadikan objek dalam pembelajran, melainkan juga harus dijadikan subjek. Tujuannya agar anak didik menjadi senang, sinpati pada guru dan tidak menjenuhkan.
Sifat bahan ajar. Yaitu ada mata pelajaran yang lebih cepat menggunakan metode ceramah, metode drill, diskusi, tanya jawab.
Kemampuan guru itu sendiri secara fisik, yaitu guru yang tidak mempunyai kekuatan fisik, sering lelah dan sakit janganlah terlalu banyak mebggunakan metode berceramah.
Media yang tersedia, semisal untuk mata pelajaran MIPA, yang sifatnya eksperimen hendaknya tersedia alat-alat yang dibutuhkannya.
Situasi kelas dan lingkungan, sebagai contoh kelas yang siswanya banyak, maka metode yang tepat adalah ceramah, dan kelas yang siswanya sedikit lebih tepat menggunakan metode diskusi.
Tujuan yang hendak dicapai.
Guru inisiator adalah guru yang selalu menjadi inspirasi anak didiknya dimanapun berada. Gaya guru inisiator ini selalu menekannkan pada siswanya memaknai segala sesuatu yang ada disekitarnya untuk menjadi yang lebih baik. Guru inisisti ini kreatif dan dinamis untuk tidak menjadikan anak didiknya tergantung pada guru. Akan tetapi juga tergantung pada diri siswa itu sendiri. Dan apabila siswa sudah menyadari untuk tergantung ada dirinya sendiri maka yang terjadi adalah kompetisi personal siswa yang objektif.
Inisistor adalah yang memulai, yang memprakarsai. Untuk mengukur kategori guru inisiator tentunya berbeda berdasarkan tempat dan situai sekolah masing-masing. Guru yang berada dalam sekolah pendalaman, pinggiran, pedesaan, pertengahan dan di perkotaan mempunyai problematika masing-masing, dan solusinya pun juga beda. Artinya, guru yang berada di wilayah pedalaman, sudah dianggap inisiator, namun belum dianggap inisator bagi guru yang ada di perkotaan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar